Pengalaman Bikin Paspor (Banyak Cerita)

Ngurus atau bikin paspor itu penting meskipun kita nggak ada rencana untuk bepergian keluar negri dalam waktu dekat. Karena kita nggak akan pernah tau kalau tiba-tiba ada pekerjaan dadakan yang mengharuskan kita keluar negri atau tiba-tiba ada flash sale tiket murah. Meskipun bikin paspor itu terhitung mudah dan nggak ribet, bagi kita yang sudah bekerja akan terasa lebih susah. Ya, susah dapat izin dari kantor untuk bolos, karena kantor imigrasi hanya buka dari hari Senin sampai Jum’at. Singkat cerita saya berhasil dapat izin dari kantor meskipun ujungnya ngga enak, kala itu hujan di hari Selasa.

Mundur waktu sejenak, sekitar penghujung bulan Februari. Boss di kantor bilang kalau kita akan ada pekerjaan di Singapura dalam waktu dekat. Sohib saya yang kebetulan sudah memiliki paspor ditugaskan untuk berangkat kesana. Dalam hati saya mikir, andai punya paspor mungkin saya nih yang berangkat; jadi mupeng. Nggak lama boss nyeletuk ke saya: “elu gue suruh bikin paspor lama sih” dan saya cuma bisa nyengir. Dengan semangat 45 dan tanpa entar entaran, saya langsung download aplikasi antrian paspor di Play Store. Begitu install, saya coba cari kantor imigrasi yang ada dan coba ambil nomor antrian yang ternyata… semua kuota sudah penuh bahkan sampai 3-4 bulan kedepan. Gile bener. Pantes di Play Store ratingnya jelek, isinya orang ngamuk-ngamuk mau booking tapi kuota full terus hahaha.

Nggak patah semangat, saya langsung ke website imigrasi Bekasi lewat handphone. Iseng-iseng aja sih, ternyata memang rezeki, Alhamdulillah kebagian kuota tanggal 27 Maret jam 14.00 WIB. Langsung saja booking, dan muncul tampilan barcode dan nomor pendaftaran. Seharusnya langsung print, tapi karena saya bukanya di handphone, jadinya cuma bisa saya capture saja untuk kemudian di print. Ini hukumnya wajib, karena kalo halaman browsernya udah ketutup, kita ngga akan bisa ngeliat barcode itu lagi seumur hidup kita.

Fast forward, dikarenakan jadwal ngurusnya jam 14.00 WIB di Bekasi, mau tidak mau saya harus izin cuti. Meskipun cuti, gini-gini saya nggak akan ninggalin pekerjaan lho, karena sebagai seorang IT yang jujur dan kompeten, selagi ada akses Internet masih bisa bekerja (pencitraan) hahaha. Kebetulan, paginya saya juga ada urusan keluarga di Kelapa Gading. Bagus urusannya nggak lama sehingga sekitar jam 12 saya langsung gaspol ke Bekasi.

Sudah sampai pertengahan jalan, tepatnya disebrang RS.Ananda, Kranji, hujan terjun bebas. Seakan-akan langit tidak kuat menopang mereka, maka langit tumpahkan begitu saja. Saya pun minggir sejenak didepan warung tegal untuk berteduh bersama premotor lainnya. Makin ditungguin makin deras, Alhamdulillah motor yang dua minggu belom dicuci jadi bersih hahaha. Dikala penantian yang berujung ini, ada client kontak saya, beliau dari BASARNAS Jakarta ingin aktivasi koneksi Internetnya di Bengkulu, Jambi dan Tanjung Pinang. Dengan sigap saya buka laptop dan kerja di warteg. Mantap, pesan es teh manis biar nggak tengsin. Internet boleh ngambil dari handphone dengan fitur USB Tethering.

30 Menit berlalu dan aktivasi selesai. Jam menunjukkan sekitar pukul 13.30 WIB. Pikir saya, nggak akan sempat ini. Belom macet karena hujan, dan saya belum tau kantornya dimana. Otomatis akan banyak berhenti dan nanya orang di jalan. Hujan masih tumpah meskipun sudah agak reda tapi saya nekat untuk menerjang mereka. Tanpa lupa bayar es teh manis, saya masukin laptop ke tas dan langsung bergegas. “Not Bad..” gumam saya, dan lucunya nggak lama setelah itu hujannya deras kembali. 400 meter kemudian saya kembali menepi.

Belum sampai 5 menit menepi, langit perlahan mencerah. Hujan pun tampak malu untuk turun. Rezeki buat saya, jalan pun tidak terlalu macet. Dengan kekuatan tekad dan Bismillah, saya kembali melaju dengan motor keluaran tahun 2009 ini. Sampai di pertigaan Fly Over Summarecon, saya ragu antara lurus atau belok kanan. Karena lampu masih hijau saya lurus.. lurus dan belok kanan di Islamic Center Bekasi. Disana, saya buka Google Maps karena nggak ada orang di jalan yang layak untuk diwawancara. Setelah di zoom, ternyata mengarah ke Stadion Bekasi. Saya harus putar balik lewat Alun-Alun Bekasi, dan lewat stasiun Bekasi yang kalian tau macetnya kayak apa kalau habis hujan. Waktu sudah menunjukkan sekitar 13.45 WIB, kepasrahan yang hakiki.. Ditengah kondisi yang serba basah (saya pakai baju formal lengkap, dibungkus oleh jaket Old Navy sambil memikul tas Bodypack) dan bensin mau habis, saya harus berjuang sampai titik darah penghabisan.

Karena baterai handphone sudah mulai low, saya ogah buka Google Maps lagi. Saya berhenti di belakang Kantor Samsat Bekasi dimana banyak kantin berjejer, dan wawancarain orang satu-satu. Saya melihat ada Bapak Tua yang mau nyebrang dari satu warung ke warung lain dan langsung saya wawancara. “Permisi bapak, kantor imigrasi dimana ya?” Bapak itu pun jawab “Mau bikin paspor ya dek? lokasinya disamping stadion”. Sambil nyengir, saya bilang “Oh, berarti harus puter balik yah” “Iya” kata si Bapak. Sederhana sekali percakapannya, tapi hari itu, sang Bapak Tua mendapat doa kebaikan dari saya karena sudah sangat membantu sekali. Dengan sopan, saya pamit dan langsung bergegas¬† kesana.

Ternyata ada papan penunjuknya, hehe. Setelah parkir motor, saya menuju ke pos security untuk mendaftar. Seolah waktu berhenti, waktu menunjukkan pukul 13.50 WIB dan saya masih punya waktu sekitar 10 menit lagi sebelum pendaftaran saya ditolak system.  Di pos security kita harus menunjukkan barcode. Berhubung saya belum print, jadi saya kasih lihat tampilan handphone yang baterainya sudah di angka 4%. Piiiip, berhasil daftar dan saya dikasih form untuk diisi. Saya pun masuk ke kantornya dan dapat nomor 453, sementara masih harus menunggu dipanggil setelah 30-40 nomor lagi. Bisa santai sejenak sambil ngeloyor ke ATM dan foto copy ini itu dan print barcode. Perlu diketahui oleh teman-teman, untuk pengumpulan berkas masih ada toleransi, semisal terlambat atau ada berkas yang kurang masih bisa menyusul saat itu juga. Di depan ada tukang fotocopy dan print, yang harganya sungguh luar biasa. Berasa makan Mie Ayam di PRJ lho haha. Untuk info saja ya, print satu lembar seharga Rp 4000, dan fotocopy satu lembar seharga Rp 1000. Meskipun demikian saya sarankan untuk membawa berkas lengkap di rumah. Apa saja berkasnya? Berikut berkas yang saya bawa dan serahkan ke petugas:

  • Foto Copy KTP di kertas A4 satu lembar. Fotocopy nya harus gede, minimal setengah kertas. Makin gede makin bagus. Bawa yang asli juga.
  • Foto Copy Akta Kelahiran di kertas A4 satu lembar. Bawa yang asli juga.
  • Foto Copy Kartu Keluarga di kertas A4. Bawa yang asli juga.
  • Hard Copy Barcode pendaftaran. Bawa yang… eh.
  • Form pendaftaran yang kita dapat dari security yang sudah diisi beserta satu lembar materai 6000 yang kita tanda tangani.

Berkas yang diserahkan cukup fotocopy nya saja, sementara yang asli nanti akan dikembalikan ke kita karena tujuannya hanya untuk pencocokan keabsahan data. Perlu diperhatikan, pada form ada pilihan untuk membuat paspor 24 halaman atau 48 halaman. Isi seperlunya sesuai kebutuhan kalian ya, karena kalau tidak diisi akan otomatis dianggap membuat 48 halaman. Setelah semuanya beres, kita akan diberi nomor antrian untuk foto dan wawancara. Saya dapat nomor L-90, sementara ada sekitar 53 orang yang belum dipanggil. Whelp. It’s really a long wait, especially when you’re the wettest person around. Saya harus nunggu di lobby yang AC nya dingin banget dengan Pakaian yang serba basah. Untungnya disana disediakan fasilitas Charging HP gratis, sehingga bisa menghibur sedikit. Melihat orang-orang yang mengurus pasporpun bisa bikin senyum, ada kakek-kakek yang mau bikin untuk haji, ada keluarga dengan tiga orang anak yang ingin liburan ke Malaysia, sampai ada satu rombongan keluarga yang lagi nungguin saudaranya pulang untuk mengambil berkas yang ketinggalan di rumah haha.

Setelah hampir 2 jam menunggu, akhirnya saya dipanggil masuk kedalam. Pertama harus foto dengan latar putih, sehingga memakai baju putih saat ingin membuat paspor itu merupakan ide yang buruk. Klik! foto disini nggak bisa narsis, dan nggak boleh retake. Sayang banget karena foto pertama itu fail karena tampang gue ngga asik banget. Setelah itu kita scan jari. Jempol Telunjuk kanan dan kiri. Langsung wawancara deh… disini kita akan ditanya macam-macam, berhubung sebelum bikin paspor saya cari referensi lain yang mengharuskan saya untuk jujur saat wawancara, saya beralasan membuat paspor agar bisa liburan dan apabila sewaktu-waktu ada pekerjaan di luar negri. Langsung dah sama petugasnya dimintain surat keterangan dari kantor, yang mana saya nggak sangka sama sekali. Tau begitu saya akan bilang untuk jalan-jalan aja biar nggak diminta macam-macam. Surat keterangan tersebut harus dibawa saat pengambilan paspor 5 hari kerja setelah pembayaran diterima.

Biaya yang harus dikeluarkan yaitu Rp. 355,000 untuk paspor 48 halaman dan Rp. 155,000 untuk paspor 24 halaman. Pembayarannya sih katanya bisa di Bank mana saja, tapi saya lebih memilih bayar di depan kantornya, yang mana sudah terparkir mobil dari Kantor Pos dijaga oleh dua orang petugas yang lagi menghitung rupiah. Kita akan bayar melalui petugas kantor pos yang hanya menerima cash. Jadi bagi kalian yang ingin mengurus paspor harus bawa uang cash biar nggak bolak-balik ke ATM, apalagi ATM BCA di area Kantor Imigrasi Bekasi itu jauh. Sebagai informasi juga, batas waktu pembayaran disini sampai jam 17.00 WIB saja. Alhamdulillah meskipun saya baru bisa kembali dari ATM BCA sekitar jam 17.05 WIB masih diperbolehkan untuk membayar.

Demikian kisah saya yang penuh dengan pesan-pesan yang tersirat ini. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini, serta dapat menambah ilmu dan yang lebih penting, semoga bisa mencerahkan kalian yang mau bikin paspor. Terima kasih!

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *